TRIBUNJAMBICOM, JAMBI - PT Jambi Prima Coal, perusahaan yang bergerak di bidang batu bara menggelar aksi kasih ke panti asuhan Al-Amin Jambi. Rahmatyo Gilang Trilaksono, pengurus perusahaan
11 Apakah ada perusahaan atau pemerintah yang menawarkan lowongan kerja bagi penyandang disabilitas dipanti asuhan Bina Siwi ? 1. IMPLEMENTASI PROGRAM PELATIHAN KERJA TERHADAP PENINGKATAN KESEMPATAN KERJA BAGI PENYANDANG . DISABILITAS TAHUN 2016 (Studi Kasus Di Panti Asuhan Bina Siwi Desa Sendang Sari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul)
Jakarta- Panti Asuhan 'Shohibul Istiqomah' di Rawajati, Jakarta Selatan, kini rata dengan tanah. Anak-anak penghuni panti sedih tidak bisa sekolah. Pengurus Yayasan Shohibul Istiqomah dan anak-anak panti masih sibuk mengurus segala macam keperluan untuk pindah tempat di Cililitan, Jakarta Timur. Mereka menolak direlokasi ke Rusun Marunda, Jakarta Utara, lantaran tempatnya yang terlalu sempit dan
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Anak Panti Asuhan Yayasan Sesamamu merayakan Natal. [NN/ – Panti ini bagaikan ibu yang selalu mempersiapkan anak-anaknya mampu menemukan mimpi dan masa depan mereka. Udara dingin akan menyapa siapa pun saat memasuki Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur NTT. Tidak Jauh dari pusat kota, berdiri Panti Asuhan PA Yayasan Sesamamu di atas tanah yang luasnya 8,5 hektar di Wae Peca, Desa Lalong, Kecamatan Wae Ri’i. Di sekitar bangunan panti, kebun membentang begitu luas. Di dalamnya ditanami berbagai jenis tanaman seperti cengkeh, kopi, dan buah-buahan. Pemimpin Panti Asuhan Yayasan Sesamamu, Pastor Yakobus Modo SVD mengungkapkan, panti ini dipersembahkan bagi anak-anak yang sebagian besar ditinggalkan oleh ibu mereka sejak belia. Hadirnya panti ini, agar mereka tidak kehilangan harapan dan putus asa. Di sini, mereka dibekali agar menjadi mandiri, sehingga dapat merajut masa depan mereka yang masih panjang. “Mereka bukanlah seperti anak-anak pada umumnya, yang setiap saat selalu mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Mereka dititipkan sejak kecil di sini, bahkan sejak nol bulan, karena kehilangan ibu. Dengan terus ditempa, mereka dapat bertumbuh dengan semangat. Mereka memiliki harapan akan masa depan yang cerah,” kata Pastor Yakobus. Sebagai Ibu Saat PA Yayasan Sesamamu didirikan tahun 1959, angka kematian ibu meningkat di Kabupaten Manggarai. Dokter Ko prihatin dengan persoalan ini. Ia lalu menemui Pastor Karolus Kale Bale SVD. Kepadanya, Ko melaporkan enam anak telantar yang ia rawat di rumahnya. Saat itu, Ko bekerja di Rumah Sakit Umum Ben Mboi Ruteng Dalam pertemuan itu, keduanya sepakat untuk menyediakan sebuah rumah bagi anak-anak itu. Atas arahan Pastor Kale, dirintislah PA Yayasan Sesamamu. Panti ini mulai beraktivitas di sebuah rumah dengan ukurannya kecil di Kampung Maumere, Ruteng. Keenam anak yang sebelumnya berada di tangan Ko menjadi penghuni pertama panti ini. Pastor Yakobus menjelaskan, pada perkembangan awal, panti ini dibantu oleh dua orang remaja, yakni Viktor Kristian Musa Bale dan Genofeva Sese. Keduanya kemudian menikah dan tetapi tetap mengabdi di panti setelah menikah. Pastor Kale selanjutnya mengirimkan Geno untuk studi keperawatan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan St Boromeus Bandung, Jawa Barat. Saat pulang, ia tetap bertahan untuk mengabdi di panti ini. Pada tahun 1961 panti dipindahkan ke Rumbit yang sekarang ini disebut Kampung Maumere akan tetapi daya tampungnya masih kecil. Pada tahun 1975 panti dipindahkan ke Wae Peca yang jaraknya sekitar enam kilometer dari Ruteng. Awalnya, panti didirikan di atas lahan warisan Pastor Yan Bala SVD, seluas kurang lebih satu hektar. “Dalam perjalanan, Pastor Kale bersama penggantinya Pastor Hilarius Gudi SVD membeli tanah dari masyarakat. Di atas tanah yang luas itulah, panti ini berdiri tegak hingga sekarang,” ujar Pastor Yakobus. Berdikari Sejak berdirinya panti ini banyak anak yang berasal dari keluarga tidak mampu diserahkan ke panti. Menurut Pastor Yakobus, anak-anak tersebut dibawa saat usia mereka masih belia. Beberapa dari mereka, bahkan dititipkan saat usia mereka barus atu hari. Dalam perkembangan waktu, panti juga memperhatikan anak-anak dari keluarga tidak mampu. Bagi mereka, panti akan membantu biaya sekolah, sedangkan kebutuhan sehari-hari diserahkan ke keluarga. Pastor Yakobus menjelaskan, sebagian besar anak yang tinggal di PA Yayasan Sesamamu merupakan anak yang kehilangan ibunya saat melahirkan. Mengingat hal itu, panti memiliki strategi tersendiri soal pola asuh. Hal ini agar mereka tidak kehilangan figur ibu. Untuk itu, masing-masing anak akan memiliki ibu asuh. Di panti sendiri ada lima orang ibu asuh, yang bertugas mengasuh mereka setiap saat. “Seperti yang saya lihat mereka itu seperti ibu dan anak. Ada ikatan batin yang tercipta. Ketika ibu asuh hilang sedikit saja, mereka pasti mencarinya,” jelasnya. Agar anak-anak panti tidak kehilangan masa depannya, mereka didorong untuk mengenyam pendidikan mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga kuliah. Mereka disekolahkan di beberapa sekolah sekitar Kota Ruteng. Setelah lulus SMA, mereka melanjutkan pendidikan di STKIP St. Paulus Ruteng dan SETIKES Semarang, Jawa Tengah. Keseharian di PA Yayasan Sesamamu waktu telah dibagi mulai dari bangun pagi hingga malam. Setiap penghuni, mendapat tugas masing-masing mulai dari membantu di dapur hingga di kebun. Waktu belajar juga telah diatur. Mereka belajar dari pukul hingga pukul waktu setempat. Anak-anak dilatih untuk lebih mandiri. Pastor Yakobus membeberkan, agar panti mandiri dan tidak bergantung pada donatur, panti sedapat mungkin mengolah tanah milik panti. Di tanah itu, panti menanam cengkeh, kopi, bahkan tambak ikan dengan bekerja sama dengan Dinas Perikanan Ruteng. Panti juga membangun embung dengan bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Selama tinggal di panti, anak-anak akan dilatih membantu di kebun dan mengurus ternak. Hasil kebun seperti cengkeh, sawah dan sayuran membantu kebutuhan mereka sehari-hari mulai dari makan hingga kebutuhan sekolah. Masing-masing anak mendapat tugas yang telah ditentukan setiap hari. Menimba Harapan Pastor Yakobus mengakui, tempat ini adalah berkat bagi semua anak tanpa terkecuali. Anak-anak ini memiliki masa lalu yang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Mereka kehilangan ibu, padahal ibu memiliki peran penting di dalam hidup manusia. Ketika seorang anak kehilangan peran ibu tentu saja inilah yang membuat anak-anak ini merasa kehilangan. Pada dasarnya mereka merupakan berkat dari Allah. “Ini adalah rumah bertepi di saat ibu pergi. Panti ini sebagai ibu yang selalu mempersiapkan anak-anak. Bagaimana mereka mampu menemukan mimpi dan masa depan mereka,” kata Pastor Yakobus. Willy Matrona HIDUP 2019, 16 Juni 2019
SEMARANG, -Warga Kota Semarang, Jawa Tengah sudah tak asing dengan Panti Asuhan Manarul Mabrur yang dikenal banyak mengasuh bayi hasil hubungan di luar nikah. Panti asuhan tersebut terletak di Jalan Shirotol Mustaqim, Pudak Payung, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebanyak 31 bayi dan 49 anak-anak dirawat di Panti Asuhan Manarul Mabrur. Hal itu membuat panti asuhan tersebut tak pernah sepi. Baca juga Kakek di Bitung Cabuli Anak Panti Asuhan sejak 2019, Terungkap Setelah Korban Lapor ke Warga Pengasuh Panti Asuhan Manarul Mabrur, Rois 56 mengatakan, awalnya panti asuhan yang dia bangun itu untuk menampung anak-anak jalanan. "Ini awalnya untuk pendidikan karakter anak jalanan," jelasnya kepada Kamis 16/6/2022. Namun, rencana Rois tak berjalan sempurna karena minimnya dukungan orang tua. Padahal, anak-anak jalanan itu sudah ditampung dan disekolahkan secara gratis. "Banyak yang malah diajak orang tua mereka ngemis di jalanan lagi," kata Rois. Hingga akhirnya, sekitar tiga tahun yang lalu Rois menerima bayi dari hasil hubungan di luar nikah yang dititipkan ke panti asuhan miliknya. "Sejak saat ini mulai banyak yang titip," ujarnya. Baca juga Pengurus Panti Asuhan di Bandung Barat Diduga Perkosa 2 Anak Asuh Bahkan sebelum melahirkan, banyak perempuan yang hamil di luar nikah datang ke panti asuhan milik Rois untuk berkonsultasi. "Lambat laun kok malah jadi banyak yang nitipin di sini," lanjutnya. Saat ini Panti Asuhan Manarul Mabrur sedang merawat 31 bayi, 49 anak-anak, dan 47 wanita hamil yang menunggu kelahiran. "Bayi dan anak-anak di panti asuhan tersebut mayoritas merupakan anak yang ditinggal ayah dan ibunya," katanya. Untuk urusan dokumen, anak-anak yang dititipkan ke panti akan dimasukkan ke Kartu Keluarga KK milik Rois. Sampai saat ini sudah ada puluhan nama. "Sudah ada sekitar 80 anak yang masuk KK saya," ucapnya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
TASIKMALAYA – Pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir dirasakan dampaknya ke berbagai sektor. Tak terkecuali, kehidupan anak-anak yang tinggal di Panti Sosial Asuhan Anak Taman Harapan di Kota Tasikmalaya. Pimpinan Panti Sosial Asuhan Anak Taman Harapan, Mamun, mengatakan dampak pandemi Covid-19 cukup terasa di tempatnya. Sebab, selama pandemi terjadi, bantuan yang masuk ke panti itu berkurang. "Sumbangan dari pemerintah jadi kurang ke tempat kami selama pandemi dua tahun terakhir," kata dia ketika didatangi Kamis 5/8. Dia memahami, pemerintah juga mengurus masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Namun, anak-anak di panti sosial juga terdampak. Mestinya, pemerintah juga dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan anak yang tinggal di panti sosial. Akibat berkurangnya bantuan dari pemerintah, Mamun mengatakan, pihaknya harus menyesuaikan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dengan pemasukan ke panti sosial. Sebab, sumber utama pemasukan ke panti itu adalah bantuan dari luar. "Namun alhamdulillah masih ada bantuan dari masyarakat yang masih peduli. Mereka ada yang kasih beras, uang, dan pakaian. Jadi kami masih bisa berjalan, anak-anak juga sehat semua," kata dia. Menurut Mamun, sejak panti itu berdiri pada 1952, tak pernah sekalipun pihaknya meminta uang kepada keluarga anak. Anak-anak yang diasuh di tempat itu tak diminta sepeser pun uang. Sebab, mayoritas anak yang diasuh di tempat itu berasal dari kalangan menengah ke bawah. Saat ini, dia menyebutkan, terdapat 40 anak yang diasuh di tempat itu. Sebanyak 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuan. Mereka semua berasal dari Kabupaten Tasikmalaya. Rata-rata anak yang tinggal di panti itu sudah tak memiliki orang tua. Namun, ada pula yang orang tuanya bekerja di kota, sehingga anaknya tak ada yang mengurus di rumahnya. Mamun mengatakan, anak-anak yang tinggal di panti datang dari berbagai usia. Ada yang masih duduk di sekolah dasar SD hingga mereka sekolah menengah atas SMA. Mereka yang tinggal di panti seluruhnya tetap melanjutkan sekolah. Namun, pihak panti tak membebankan biaya pendidikan itu kepada keluarga. Mamun berharap, pandemi Covid-19 dapat cepat berakhir. Dengan begitu, pemerintah bisa kembali memberikan bantuan ke panti asuhan itu. "Jadi pelayanan anak-anak di sini juga bisa lebih maksimal," kata dia. Salah seorang anak yang tinggal di panti itu, Amarudin 12 mengaku baru beberapa pekan terakhir tinggal di sana. Selama ini, dia diasuh bibinya di Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya. Ayahnya sudah lama meninggal dunia. Sementara ibunya kerja di Jakarta dan hanya pulang setahun sekali. "Terus saya dibawa ke sini sama bibi," kata dia. Menurut Amirudin, lebih enak tinggal di panti ketimbang bersama bibinya. Sebab, di panti ia bisa memiliki banyak teman. Sementara itu, salah seorang anak lainnya, Risman 16 mengaku sudah tiga tahun terakhir tinggal di panti itu. Ia memilih tinggal di panti karena ibunya menikah lagi, setelah ayahnya meninggal dunia. "Saya di sini sama adik saya yang kecil. Kakak-kakak saya sudah kerja semua," kata anak yang berasal dari Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya itu Menurut dia, hidup di panti lebih enak dibanding harus ikut ibunya yang saat ini tinggal bersama ayah tirinya. Sebab, setelah ibunya menikah lagi, Risman dan adiknya merasa tak diperhatikan orang tuanya. "Enak di sini, bisa sekolah. Kalau di sana keyak gak diurus. Di sini juga makan teratur, banyak teman juga," kata anak yang bercita-cita jadi tentara itu.
panti asuhan sekitar sini